Medan, 20 Agustus 2026 — Program Studi Ekonomi Islam (Prodi Ekis) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (FEB USU) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Bapperida Provinsi Sumatera Utara melaksanakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperkuat implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sumatera Utara.
Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026, tersebut terdiri atas Focus Group Discussion (FGD) SDGs Business Registration System (BRS), Simulasi Games SDGs, serta kunjungan ke Bank Sumut. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, mitra pembangunan, lembaga keuangan, dunia usaha, dan pelaku UMKM dalam mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

FGD Bahas Penguatan SDGs Business Registration System
Kegiatan pertama berupa FGD dilaksanakan pada pukul 10.00–12.30 WIB di lingkungan FEB USU. FGD membahas perkembangan dan pengembangan SDGs Business Registration System (BRS) sebagai wadah yang mempertemukan UMKM dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pencapaian SDGs.
Dalam FGD tersebut hadir sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Bapperida Provinsi Sumatera Utara, Bank Indonesia, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), JICA, serta pelaku UMKM yang terlibat dalam Program BRS SDGs Sumut. FGD bertujuan menghimpun masukan mengenai penguatan kelembagaan, implementasi, perluasan keanggotaan, serta tindak lanjut pengembangan BRS di Sumatera Utara.
Ketua SDGs Center Universitas Sumatera Utara, Wahyu Ario, dalam pembukaan menyampaikan perkembangan BRS yang telah diluncurkan pada April 2026 di Medan. Program tersebut diadaptasi dari praktik di Jepang dan menjadikan Sumatera Utara sebagai wilayah awal pengembangan BRS di Indonesia. BRS dirancang sebagai platform untuk mempertemukan UMKM dengan pemangku kepentingan dalam mendukung keberlanjutan lingkungan dan bisnis.
Diskusi menghasilkan sejumlah masukan penting. Bapperida Sumatera Utara mendorong agar data UMKM dapat diintegrasikan dengan BRS serta agar BRS dapat diakomodasi dalam dokumen perencanaan daerah seperti RKPD dan Renja perangkat daerah. BRS juga diharapkan ke depan tidak hanya mencakup UMKM, tetapi dapat diperluas kepada usaha dan industri yang lebih besar.
Sementara itu, Bank Indonesia menyampaikan peluang integrasi UMKM binaan melalui Program Mangulosi ke dalam ekosistem BRS. Saat ini terdapat 107 UMKM binaan dengan beragam bidang usaha yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi tersebut.
Dari sisi dunia usaha, Kadin menyampaikan komitmennya untuk berperan sebagai fasilitator antara SDGs Center, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, JICA, dan pelaku usaha. Kadin juga membuka peluang pengembangan business matching, perluasan akses pasar nasional dan internasional, serta keterhubungan UMKM dengan sumber pembiayaan.
Masukan dari pelaku UMKM turut memperkaya diskusi, terutama terkait kebutuhan akses pembiayaan, business matching, pemasaran, serta bagaimana memastikan program BRS dapat menjangkau pelaku usaha hingga wilayah pelosok kabupaten.

Simulasi Games SDGs sebagai Alternatif Verifikasi BRS
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada pukul 13.30–15.30 WIB melalui Simulasi Games SDGs yang dipandu oleh JICA di Ruang Seminar Prodi Ekonomi Islam FEB USU.
Simulasi ini diperkenalkan sebagai salah satu opsi pendekatan yang dapat diujicobakan dalam tahapan verifikasi BRS bagi UMKM SDGs ke depan. Pendekatan berbasis permainan diharapkan dapat membuat proses pengenalan dan pemahaman prinsip-prinsip SDGs menjadi lebih interaktif, khususnya bagi pelaku UMKM.
Penggunaan pendekatan yang lebih partisipatif juga sejalan dengan salah satu hasil FGD yang menekankan pentingnya peningkatan literasi SDGs. Dalam diskusi, JICA menyoroti bahwa orientasi terhadap lingkungan dan gaya hidup hijau perlu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sehingga prinsip keberlanjutan tidak berhenti pada level program, tetapi juga tercermin dalam perilaku individu dan masyarakat.
Kunjungan ke Bank Sumut
Pada sore hari, pukul 16.00–18.00 WIB, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Bank Sumut. Kunjungan ini menjadi bagian dari penjajakan penguatan kolaborasi dengan sektor perbankan, khususnya dalam mendukung kebutuhan UMKM terhadap akses pembiayaan dan pengembangan usaha.
Aspek pembiayaan menjadi salah satu isu penting yang muncul dalam FGD. Pelaku UMKM menyampaikan kebutuhan terhadap dukungan finansial, sementara hasil diskusi juga mengidentifikasi peluang kolaborasi dengan perbankan lokal untuk memperkuat akses pembiayaan bagi anggota BRS.
Membangun Ekosistem UMKM yang Inklusif dan Berkelanjutan
Rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa penguatan SDGs bagi UMKM membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pencatatan atau registrasi usaha, tetapi juga pada pendampingan, pembiayaan, akses pasar, business matching, literasi SDGs, dan perubahan perilaku yang mendukung keberlanjutan.
Hasil FGD menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, Kadin, JICA, perguruan tinggi, perbankan, dan pelaku UMKM agar implementasi BRS dapat menjangkau lebih banyak sektor dan wilayah serta menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Ke depan, pengembangan BRS diarahkan pada perluasan jejaring ke berbagai kabupaten/kota, integrasi UMKM binaan, kunjungan lapangan, peningkatan literasi SDGs bagi generasi muda, serta penguatan kerja sama dalam aspek business matching, akses pasar, pembiayaan, dan pendampingan UMKM.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran Program Studi Ekonomi Islam FEB USU dalam membangun kolaborasi yang menghubungkan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan dengan pengembangan ekonomi dan pemberdayaan UMKM. Melalui sinergi dengan JICA, Bapperida, SDGs Center USU, lembaga keuangan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Prodi Ekis diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan selaras dengan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
