Medan – Rangkaian International Sustainability Conference (ISC) FEB USU 2026 berlanjut pada Rabu, 21 Oktober 2026, dengan dua sesi pembelajaran yang membahas keseimbangan antara nilai budaya dan kepentingan komersial dalam bisnis, serta peran kewirausahaan sosial dalam pembangunan berbasis masyarakat dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Sesi pertama mengangkat materi “Balancing Cultural and Commercial Imperatives in Business” yang disampaikan oleh Tui MacDonald. Materi ini berfokus pada keseimbangan antara nilai-nilai budaya dan kepentingan komersial dalam menjalankan bisnis. Pembahasan tersebut relevan dengan tantangan dunia usaha dalam mengembangkan kegiatan bisnis tanpa mengabaikan nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Pada sesi berikutnya, Assoc. Prof. Dr. Hairunnizam bin Wahid menyampaikan materi “Social Entrepreneurship, Community-Based Development, and SDGs”. Sesi ini mengangkat keterkaitan antara kewirausahaan sosial, pembangunan berbasis masyarakat, dan pencapaian SDGs. Kewirausahaan sosial menjadi salah satu pendekatan yang dapat dikaji dalam upaya menghubungkan aktivitas ekonomi dengan kebutuhan dan pemberdayaan masyarakat.
Melalui kedua sesi tersebut, ISC FEB USU 2026 menghadirkan perspektif mengenai pentingnya mempertimbangkan dimensi budaya dan sosial dalam pengembangan bisnis. Pembahasan ini memperluas wawasan peserta mengenai bagaimana kegiatan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menciptakan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan perspektif bisnis yang bertanggung jawab, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui perhatian terhadap nilai budaya dan pembangunan berbasis masyarakat. Selain itu, pembahasan kewirausahaan sosial turut mendukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam mendorong kolaborasi bagi pembangunan berkelanjutan.