Tim Desa Binaan USU Membantu Pengolahan Hasil Laut Masyarakat Sebagai Tambahan Penghasilan Warga

Tim Desa Binaan Universitas Sumatera Utara yang dibentuk oleh Lembaga Pengabdian Masayrakt Universitas Sumatera Utara (LPPM USU) kembali melaksanakan kegiatan pengabdian dengan mengambil lokasi Kampung Nelayan Seberang, Belawan, Sumatera Utara sebagai desa yang akan dibina oleh sivitas akademia Universitas Sumatera Utara. Program Desa Binaan di Kampung Nelayan Seberang diketuai oleh Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, S.E., M.Si yang juga merupakan Guru Besar Universitas Sumatera Utara bidang manajemen sumber daya manusia. Kali ini tim dari Universitas Sumatera Utara melakukan pendidikan dan pengajaran terkait pengolahan hasil laut yang menjadi komoditas utama Kampung Nelayan Seberang agar menjadi lebih bernilai jual dan memberikan nilai ekonomi yang lebih baik kepada masyarakat.

Salah satu pelaksana kegiatan Aisyah, S.E., M.Si., yang menjadi koordinator tim pelaksana pada program pengolahan hasil laut tersebut. “Sayang sekali ya, kalau kita lihat hasil laut yang belum optimal termanfaatkan padahal bernilai jual dan unik seperti buah mangrove yang bisa diolah dan dijual dengan nilai ekonomi tinggi”, ungkap koordinator pelaksana yang mendasari pelaksanaan program pengolahan hasil laut tersebut. Pada kegiatan ini tim pengabdian memberikan ipteks terkait pengolahan hasil lain seperti pengolahan ikan menjadi abon dan baso ikan, serta buah mangrove yang diolah menjadi rujak serta sirup mangrove.

 

Tim Produksi Desa Binaan USU

Adrian Hilman , S.T.P., M.Sc., dosen Fakutlas Pertanian USU menjadi salah satu fasilitator dalam pengolahan hasil laut tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa tidak semua buah mangrove dapat diolah menjadi sirup. Jenis buah yang paling sesuai adalah jenis Pedada (Sonneratia caseolaris). Beliau menambahkan bahwa telah banyak literatur yang menguji manfaat dan kesehatan dari olahan buah tanaman bakau tersebut, namun masih sedikit masyarakat yang memahami, terutama teknik produksinya.

Prof. Dr. Arlina Nurbaity Lubis, S.E., M.Si., selaku wakil ketua kegiatan pengabdian Desa Binaan dan juga Guru Besar USU bidang manajemen pemasaran menyampaikan pandangannya seputar potensi besar dari market untuk hasil olahan buah mangrove serta abon ikan tersebut. “Kalau kita berbicara pasar, produk sirup mangrove ini sangat menjanjikan. Dari aspek manfaat kesehatan sendiri produk ini dapat dikonsumsi untuk menurunkan tingkat kolesterol serta tanpa bahan pengawet yang akan menjadi salah satu keunggulan produk. Ke depannya kami akan coba bantu terkait teknis pemasaran agar produk ini tidak hanya terpusat di Kampung Nelayan Seberang saja, namun memasuki pasar Medan, bahkan hingga pasar-pasar di Sumatera Utara,” sebut Prof Arlina dengan penuh antusias.

Pada kegiatan pengabdian tersebut, tim memberikan peralatan produksi dan dibantu masyarakat untuk menyediakan bahan baku produksi yang berasal dari sumbar daya alam di Kampung Nelayan Seberang tersebut. Ketersediaan bahan baku yang berlimpah juga akan membantu peningkatan daya saing produk. Buah Pidada serta ikan hasil tangkapan laut tersedia dalam jumlah besar di Kampung Nelayan Seberang.

Proses pengolahan buah pidada menjadi sirup dilakukan dengan memilih buah pidada yang sudah relatif masak yang memiliki tekstur sedikit lembut ketika dipegang. Buah ini kemudian dibelah dan dibersihkan sebelum direbus bersama larutan air dan gula pasir. Gula pasir dapat bersifat sebagai pemberi rasa manis sekaligus pengawet alami. Hasil rebusan tersebut kemudian disaring dengan kain bersih untuk memisahkan sari dari sisa rebusan. Sari ini kemudian didinginkan dan disimpan menjadi sirup mangrove. Sirup ini dapat langsung dinikmati ataupun dicampur dengan air untuk mengencerkan larutannya. Pada suhu ruang, produk ini dapat bertahan selama kurang lebih 7 hari setelah produksi.

Bapak Ikhwan, dari perwakilan masyarakat Kampung Nelayan Seberang, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada USU, LPPM USU, serta seluruh tim desa binaan yang telah memberikan perhatiannya dalam membangun kampung nelayan seberang. Ilmu-ilmu ini akan kami terapkan dan kami coba untuk terus melaksanakannya. Beliau juga mengharapkan bahwa ke depannya mohon masyarakat tetap dipandu terutama jika ada kendala dalam kegiatan produksi pengolahan hasil laut tersebut.